Selasa, 22 Januari 2019

Kamis, 28 September 2017

Pengaruh Jenis Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung



LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
“Pengaruh Jenis Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung”







Guru Pembimbing:
Hesti Indijati, S.Pd.

Nama Anggota Kelompok:
                                    Devi Widianti                 (07)
                                    Erliana Dwi W.              (10)
                                    M. Yogi Eka P.              (19)
                                    Shofi Harya P.               (28)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan tentang “Pengaruh Jenis Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Hesti Indijati, S.Pd. yang telah memmberikan tugas ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pertumbuhan pada tanaman. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan laporan yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Bojonegoro, 28 September 2017


Penyusun                    
           



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ....................................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
1.3  Hipotesis ................................................................................................................. 2
1.4  Tujuan ..................................................................................................................... 2
1.5  Manfaat .................................................................................................................. 2
BAB II : KAJIAN TEORI ................................................................................................ 3
BAB III : METODE PENELITIAN
3.1  Alat dan Bahan ....................................................................................................... 6
3.2  Cara Kerja ............................................................................................................... 6
3.3  Perlakuan Percobaan ............................................................................................... 7
3.4  Cara Mencari & Mengolah Data ............................................................................. 7
3.5  Variabel .................................................................................................................. 7
3.6  Waktu dan Tempat ................................................................................................. 7
BAB IV : PEMBAHASAN
4.1  Hasil Pengamatan ................................................................................................... 8
4.2  Analisis Data .......................................................................................................... 8
BAB V : PENUTUP
5.1  Kesimpulan ............................................................................................................. 11
5.2  Saran ....................................................................................................................... 11
LAMPIRAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.
Dalam perkecambahan biji selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan.Arti dari pertumbuhan dan perkembangantumbuhan sangatlah beda. Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya penambahan substansi  (bahan dasar) yang bersifat  irreversible(tidak dapat kembali dalam keadaan semula). Sedangkan perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan yang tidak dapat diukur dan bersifat kualitatif. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat langsung diukur apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh.
Pertumbuhan dan perkembangan biji akan selalu berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dibedakan menjadi 2 yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal  adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh tumbuhan yang terdiri atas faktor intrasel (di dalam sel) yang meliputi gen, dan faktor intersel (sela-sela sel) yang meliputi hormon. Yang kedua adalah faktor yang berasal dari luar tubuh tumbuhan atau faktor eksternal yang mencakup cahaya/sinar matahari, suhu/temperature, kelembaban udara, nutrisi, kadar air,oksigen atau karbondioksida, pH atau sederajat keasaman, kepadatan populasi, dan media tanam tumbuhan.
Media tanam merupakan salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan dan  perkembangan tanaman. Penggunaan media tanam yang tepat akan menentukan pertumbuhan bibit yang ditanam. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya terhadap perkecambahan suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda.

Media tanam merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Contohnya seperti tanah, air, kapas, pasir, dan sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan, tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tapi, dalam kegiatan penelitian, siswa-siswi selalu memakai  kapas untuk perkecambahan biji mereka, sedangkan media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk tumbuhan hidroponik. Media tanam itu berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan semua tanaman termasuk pertumbuhan tanaman jagung.

1.2  Rumusan Masalah
·         Bagaimana pengaruh jenis tanah terhadap pertumbuhan tanaman jagung?
·         Bagaimana pertumbuhan tanaman jagung yang menggunakan media tanam tanah?
·         Bagaimana pertumbuhan tanaman jagung yang menggunakan media tanam pasir?

1.3  Hipotesis
Rumusan hipotesis dari percobaan ini adalah bahwa jenis media tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan biji jagung. Hipotesis ini di sebut  juga hipotesis alternatif, hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh veriabel bebas terhadap variable terikat .

1.4  Tujuan
·         Untuk mengetahui pengaruh jenis tanah terhadap pertumbuhan tanaman jagung.
·         Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman jagung yang menggunakan media tanam tanah.
·         Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman jagung yang menggunakan media tanam pasir.

1.5  Manfaat
Sebagai sumber informasi bagi sebagian orang yang belum mengetahui pengaruh jenis tanah bagi pertumbuhan tumbuhan jagung.
Sebagai sumber informasi dalam pengembangan teknologi pertanian, dan juga untuk memberi informasi pembaca atau petani tentang ciri-ciri media tanam yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung.

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1     Tanaman Jagung
        Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
        Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan.
        Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnyajagung tidak memiliki kemampuan ini. Bunga betina jagung berupa “tongkol” yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan “rambut”. Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
        Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
        Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yangmuncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat  ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
        Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satutanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh dibagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, diantara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada betinanya (protandri).
        Taksonomi jagung adalah :
Kingdom             : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio                 : Spermatophita (tumbuhan berbiji)
Sub diviso           : Angiospermae (biji tertutup)
Classis                 : Monocotyledone (keping satu)
Ordo                    : Graminae (rumpt-rumputan)
Familia                 : Graminaceal
Genus                  : Zea
Species                : Zea Mays L

2.2    Media Tanam
·         Media Tanam Tanah
        Tanah merupakan jenis media tanam yang bertekstur paling halus dan lengket atau berlumpur. Karakteristik dari tanah adalah memiliki pori-pori berukuran kecil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang cukup kuat. Pori-pori mikro adalah pori-pori halus yang berisi air kapiler atau udara. Sementara pori-pori makro adalah pori-pori kasar yang berisi udara atau air gravitasi yang mudah hilang. Ruang dari setiap pori-pori mikro berukuran sangat sempit sehingga menyebabkan sirkulasi air atau udara menjadi lamban.
        Pada dasarnya, tanah bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara. Penggunaan tanah yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagaimediaa penyemaian, cangkok,dan bonsai.
·         Media Tanam Pasir
        Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Sejauh ini, pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkanproses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya stek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir malang dan pasir bangunan merupakan jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam.
        Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi (ketahanan terhadap proses pemisahan) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal.
        Penggunaan pasir sebagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis tanaman.
        Pasir pantai atau semua pasir yang berasal dari daerah bersersalinitas tinggi merupakan jenis pasir  yang harus dihindari untuk gunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci terlebih dahulu. Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman menjadi merana. Selain itu,organ-organ tanaman, seperti akar dan daun, juga memperlihatkan gejala terbakar yang selanjutnya mengakibatkan kematian jaringan(nekrosis).





BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Alat dan Bahan
·         Alat
1)      Penggaris
2)      Gelas ukur
3)      Sekop kecil
·         Bahan
1)      2 gelas plastik
2)      Tanah
3)      Pasir
4)      Tanah
5)      Air
6)      Biji jagung
7)      Label nama

3.2  Cara Kerja
1)      Menyiapkan 2 gelas plastik dan memberi label nama A dan B
2)      Menaruh media tanam pada setiap gelas plastik dengan perlakuan berbeda:
·         Gelas A diberi media tanam tanah
·         Gelas B diberi media tanam pasir
3)      Memilih 6 biji jagung yang baik dan menanamnya 3 biji pada setiap gelas plastik
4)      Menyiram tanaman tersebut setiap hari dengan kadar air yang cukup dan sama rata pada tiap-tiap gelas
5)      Mengamati pertumbuhan tanaman jagung dengan mencatat dan mengukur tingginya setiap 5 hari sekali selama 15 hari
6)      Jangan lupa untuk menghitung jumlah daun pada setiap gelas
7)      Bedakan pertumbuhan tanaman pada masing-masing gelas dan tulis pada tabel hasil pengamatan


3.3  Perlakuan Percobaan
·              Gelas A diberi media tanam tanah
·              Gelas B diberi media tanam pasir

3.4  Cara Mencari dan Mengolah Data
·         Data yang diambil adalah pertambahan tinggi dan jumlah daun tanaman jagung yang diberi media tanam tanah dan pasir
·         Yang diambil setiap 5 hari sekali selama 15 hari

3.5  Variabel
·         Variabel bebas: jenis media tanam (tanah dan pasir)
·         Variabel terikat: tinggi tanaman dan jumlah daun
·         Variabel kontrol: air, cahaya, suhu, jumlah biji, jumlah gelas plastik

3.6  Waktu dan Tempat
Waktu: 16-31 Agustus 2017
Tempat: di kelas XII MIA 2 SMAN 4 Bojonegoro



BAB IV
PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan
Waktu
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Tanah (A)
Pasir (B)
Tanah (A)
Pasir (B)
16 Agustus 2017
kecambah
kecambah
kecambah
kecambah
17 Agustus 2017
kecambah
kecambah
kecambah
kecambah
18 Agustus 2017
3 cm
2 cm
2
1
19 Agustus 2017
7 cm
3 cm
2
1
20 Agustus 2017
10 cm
4 cm
2
2
21 Agustus 2017
13 cm
5 cm
2
2
22 Agustus 2017
18 cm
6 cm
3
2
23 Agustus 2017
21 cm
7 cm
3
2
24 Agustus 2017
23 cm
8 cm
3
2
25 Agustus 2017
26 cm
9 cm
3
3
26 Agustus 2017
30 cm
10 cm
3
3
27 Agustus 2017
31 cm
10 cm
4
3
28 Agustus 2017
32 cm
11 cm
4
3
29 Agustus 2017
34 cm
13 cm
4
3
30 Agustus 2017
36 cm
14 cm
4
3
31 Agustus 2017
37 cm
15 cm
4
3

4.2  Analisis Data
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa setiap hari tanaman jagung mengalami pertumbuhan yang terlihat dari bertambahnya tinggi tanaman. Dari data tersebut, juga dapat diketahui kuantitas pertumbuhan tanaman jagung dipengaruhi oleh jenis media tanam yang berbeda.
            Penghitungan rata-rata tinggi tanaman kacang hijau dalam penelitian yang kami lakukan dimulai pada hari ke-3 (pengukuran pertama) sampai hari ke-15 (pengukuran terakhir) masa tanam. Sedangkan pada hari pertama sampai hari ke-3 tidak dihitung.
            Pada pengukuran pertama yaitu hari ke-3, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 3 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 2 cm dengan jumlah daun sebanyak 1 helai.
            Pada pengukuran kedua yaitu hari ke-4, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 7 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 3 cm dengan jumlah daun sebanyak 1 helai.
            Pada pengukuran ketiga yaitu hari ke-5, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 10 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 4 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai.
            Pada pengukuran keempat yaitu hari ke-6, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 13 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 5 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai.
            Pada pengukuran kelima yaitu hari ke-7, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 18 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 6 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai.
            Pada pengukuran keenam yaitu hari ke-8, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 21 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 7 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai.
            Pada pengukuran ketujuh yaitu hari ke-9, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 23 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 8 cm dengan jumlah daun sebanyak 2 helai.
            Pada pengukuran kedelapam yaitu hari ke-10, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 26 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 9 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
            Pada pengukuran kesembilan yaitu hari ke-11, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 30 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 10 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
            Pada pengukuran kesepuluh yaitu hari ke-12, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 31 cm dengan jumlah daun sebanyak 4 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 10 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
            Pada pengukuran kesebelas yaitu hari ke-13, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 32 cm dengan jumlah daun sebanyak 4 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 11 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
            Pada pengukuran keduabelas yaitu hari ke-14, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 34 cm dengan jumlah daun sebanyak 4 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 13 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
            Pada pengukuran ketigabelas yaitu hari ke-15, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 36 cm dengan jumlah daun sebanyak 4 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 14 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
            Pada pengukuran keempatbelas yaitu hari ke-16, tinggi tanaman jagung pada gelas A sepanjang 37 cm dengan jumlah daun sebanyak 4 helai. Sedangkan tinggi tanaman jagung pada gelas B sepanjang 15 cm dengan jumlah daun sebanyak 3 helai.
Dari data di atas, dapat kita bandingan hasil pertumbuhan tanaman jagung yang diberi media tanam tanah dan pasir. Ternyata hanya tanaman jagung yang diberi media tanam tanah  dapat melebihi rata-rata tinggi dan jumlah daun tanaman jagung yang diberi media tanam pasir.


BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
         Media tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan biji jagung. Mulai dari daya intermolekul ,tekstur media tersebut dan lain-lain. Apabila media tanam memiliki daya intermolekul yang kecil maka kecepatan perkecambahan juga akan lambat dikarenakan biji sulit dalam menyerap air, sedangkan apabila daya intermolekul besar maka sebaliknya. Dilihat dari tekstur,apabila media tanam memiliki tekstur sangat berserat atau pori – porinya sangat rapat, maka akar akan sulit menembus atau sulit mendapat ruang gerak. Bila menggunakan media tanam yang mudah menembus pori-pori karena pasir mempunyai rongga udara yang baik dan mempunyai daya serap air yang baik, sehingga perkecambahan biji jagung mengalami pertumbuhan yang cepat.

5.2  Saran
        Pembaca disarankan dapat melanjutkan penelitian ini sebagai perbandingan untuk penelitian yang lain. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan acuan untuk penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan penanaman biji jagung. Perkembangan Ilmu Biologi bergantung pada kepedulian kita terhadap hal-hal baru dalam pengetahuan alam.


LAMPIRAN